”.. .Sejak saat itu namamu selalu melekat di kepalaku dan membentuk apa yang disebut dengan ‘mimpi’. Ya, akhirnya aku memipikanmu.”
”.. .Aku tidak ingin menjadi sepertimu, atau seperti orang-orang yang mati di tanganmu. Karena itu aku tidak akan meremehkan jalanan lagi.”
“itulah jalanan. walaupun kita sudah waspada, kita juga harus siap atas ketidakwaspadaan orang lain :(”
”.. .Siapa tau mesin waktu sudah tidak rusak dan kita bisa segera bertemu dalam waktu yang sama dengan suhu yang berbeda :)”
”.. .Karena kesederhanaannya tulus dan tanpa syarat. Karena kesederhanaannya jujur dan tanpa tetapi. Itulah cintamu. Cinta yang membuat aku mencintaimu.”
Tuhan dan Cinta
- Habis membaca (kembali) cerita pendek @deelestari, Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan.. .
- Y : Tuhan itu apa?
- I : Tuhan itu adalah sebuah keyakinan.. .
- Y : (nunggu kelanjutannya)
- I : Tunggu, emang kamu tau apa itu Tuhan? Emang ada yang bisa jelasin apa itu Tuhan?
- Y : Aku juga gga bisa jelasin. Emang gga ada yang bisa jelasin. Berarti sama kaya cinta dong ya, susah dijelasin artinya.
- I : Aku sih bisa ngejelasinnya.
- Y : Cinta itu apa?
- I : Kamu.
- Y : .. . Aish --"
”.. . Maka kukumpulkan dan kuselipkan beragam bentuk kata rindu dalam amplop surat cinta hari ini. Khusus untukmu, sebagai hadiah ulang tahunmu :)”
“Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa.
Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”
—Dewi @deelestari Lestari. ‘Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan’ - Madre hal.103
Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”

